Kangen sehat

Yap… Ketika seorang manusia sedang dalam masa sakitnya maka yang dibangun dan dirinci adalah masa sehat. 

Tidak jarang dari kita ketika di masa sehatnya kurang memperhatikan asupan makanan dan kegiatan yg dilakukan sehari-hari.

Sebagai contoh, kemarin saat saya pulang kerja, angin dan hujan mengiringi perjalananku. Namun, bukannya saya memakai mantol, melainkan nekat saja hanya pakai jaket. Alhasil ya basah kuyup sampai  rumah.

kemudian asupan makanan yg masuk ke tubuh juga kurang diperhatikan saat sehat.  Kemarin Sabtu saat saya memilih buka puasa (OCD) dengan makan mi ayam yg sambel dan saosnya  lumayan banyak. Trus dilanjut ngemil makan biskuit coklat dan minumnya susu int coklat. Ah.. Kenyang. Nah malamnya saya diajak suami keluar makan sate ayam. Aduh… Penuh nih perut, tapi sayang gak bisa pup.

Trus sekarang tinggal memetik buahnya, saya hanya bisa terkapar di rumah sendirian tanpa suami dan anak.

Hah… Kok bisa?

Jadi, suami sudah berangkat kerja, sedangkan anak sudah diambil mbahnya. Memang tadi saya niat mau masuk kerja, tapi kok perut ini rasanya seperti diremes-remes. Langsunglah saya lari ke water closed untuk pup. (Maaf sodara2, gak disensor) sampai bolak-balik 3 kali. Aduh… Langsung habis tenaga ini, seperti kehabisan cairan tubuh.

Yup yang harus saya lakukan sekarang adalah perbanyak minum air putih supaya gak lemes lagi. Saya gak sarapan karena masih dalam masa diet OCD.

Oke.. Itu saja yg bisa saya share ke teman2 pembaca (bagi yg sudi membaca). Semoga bisa diambil hikmahnya.

Welcome back to write 

Horeeee….

Akhirnya… Setelah sekian lama aku vakum dari dunia per-blog-an, kini kembali gairah mencorat-coret di blog yang sudah 8 tahun menemaniku ini.

Sebenarnya, ada cerita di balik munculnya hasrat ini, yaitu di tempat aku bekerja saat ini, aku diamanahi untuk menjadi tim redaksi website instansi ini.

Jadi, secara tidak langsung, hal ini memberikan stimulus agar jari2ku l segera menari untuk mengutarakan isi kepalaku yg telah lama hampir terkubur. Meskipun selama  ini aku juga aktif di medsos, tidak serta merta segala kegundahan tertuang dengan  bebasnya. (Maklumlah banyak mata2nya).

Kalau di sini agaknya lebih leluasa untuk menuangkan ide2 yg selama ini menggelitik ingin tersalurkan.

Okelah malam ini cukup segitu dulu, saatnya bobo syantik bersama my little prince Fahri.

Salam bahagia dan jujur pada diri sendiri.

KEPERCAYAAN

trust

sabtu pagi tepatnya pukul 07.45 WIB di ruang tunggu nasabah, aku dan rekan-rekan kerja berdiri menghadap pimpinan. seperti biasa ini adalah rutinitas kami, yaitu brifing pagi sebelum jam layanan.
aku yang masih baru di sini sudah cukup bisa menyesuaikan dengan keadaan di tempat kerja baruku.
pagi ini kepala cabang memberi sebuah kisah yang sederhana tapi panuh makna.
Pak Hans bercerita tentang “kepercayaan”.
“siapa di antara kalian yang percaya bahwa masa depan kalian akan lebih baik dari sekarang?”
hanya beberapa dari kami yang mengacungkan tangan dan aku salah satunya.
“mengapa hanya sedikit yang percaya?”
lalu hampir serentak kami semua mengancungkan tangan
“brifing pagi ini saya mau bercerita”
“pernah ada seorang akrobat yang akan memamerkan aksinya berjalan di antara dua gedung hanya dengan seutas tali. sang pesulap percaya bahwa dia dapat melakukannya. orang-orang sudah menunggu di bawah rentangan tali untuk melihat aksi sang pesulap berjalan di atas seutas tali.
awalnya mereka ragu namun setelah pesulap berhasil sampai di gedung seberang, penonton pun bertepuk tangan dengan keras dan menyerukan pujian.
kemudian di hari berikutnya sang pesulap akan beraksi bersepeda satu roda di atas rentangan tali di antara dua gedung. hal ini juga akan diliput oleh beberapa tv swasta. penonton di bawah pun memberi semangat dan bertepuk tangan saat pesulap berhasil bersepeda di atas seutas tali. kemudian sang pesulap tanya kepada penonton apakah kalian percaya bahwa saya bisa bersepeda dengan membawa beban menyebrangi seutas tali yang direntangkan di antara dua gedung ini? semuanya serempak menjawab PERCAYA!!!!
kalau begitu saya minta salah satu di antara kalian untuk saya gendong dan bersepeda di atas tali itu
semua penonton tidak ada yang angkat bicara bahkan kebanyakan dari mereka menghindar dan takut ditunjuk”
dari kisah yang diceritakan Pak Hans sudah dapat dipetik pelajarannya.
salah satunya adalah jika kita percaya bahwa masa depan kita akan lebih baik dari hari ini maka jangan berdiam diri tapi lakukan sesuatu yang terbaik untuk hari esok sama seperti dengan orang yang berkata bahwa ia percaya dengan gemar membaca maka ia akan jadi pintar dan berilmu tapi ia tidak melakukannya maka jangan berharap ia akan pintar dan berilmu.

sekian sharing dari saya jika ada yang ingin menambahkan hikmah dari kisah di atas, sok atuh kasih komennya…

CARA MENEMUKAN IDE POKOK

buat kamu yang sulit banget belajar pelajaran Bahasa Indonesia, yuk intip penjelasan dariku semoga bermanfaat dan kamu bisa mengerjakan tugas atau soal yang diberikan oleh gurumu.

  1. mengetahui ide pokok yang namanya ide pokok pasti tersurat dalam kalimat utama. nah sekarang cari dulu mana kalimat utamanya. paragraf itu berdasarkan letak kalimat utamanya ada 4, yaitu:
  • D deduktif => di awal / kalimat 1
  • I   induktif => di akhir / biasanya berupa simpulan key word= Jadi, Oleh karena itu,
  • V  variatif => di awal dan di akhir
  • D deskriptif-naratif => menyebar di seluruh paragraf

gimana udah paham???? jawab serentak, “beloooooom!!!” nah kalo belum paham juga, biasanya nih paragraf/bacaan yang ada di soal itu termasuk jenis paragraf deduktif atau induktif. Variatif sama Deskriptif-naratif itu jarang banget (kalo soalnya carilah ide pokok)
contoh:

Pemprov Jatim menjadi tempat percontohan nasional pembentukan advokasi tenaga kerja perempuan. Dipilihnya Jatim sebagai tempat percontohan karena banyak industri yang menggunakan tenaga kerja (naker) wanita. Pusat advokasi ini akan menjadi tempat pengaduan dan tempat bertanya bagi pekerja perempuan. Hal itu berkaitan dengan hak dan kewajiban perempuan dalam sebuah perusahaan.

Kalimat utama bacaan tersebut adalah . . .

(A)    Di awal
(B)    Di akhir
(C)    Di awal dan akhir
(D)    Di seluruh paragraf

jawabannya A, karena kalimat utamanya emang kalimat 1. tau dari mana?
misal ini paragraf deduktif
————————- => kalimat utama
————————– => kalimat penjelas
————————– => kalimat penjelas
————————– => kalimat penjelas/ bukan simpulan
ciri kalimat penjelas =

1. ada kata ganti : dia, ia, nya
2. ada kata tunjuk : itu, ini, tersebut
3. ada kata hubung: namun, meskipun,
4. pengulangan kata kunci: soal di atas tempat percontohan, advokasi

UNSUR INTRINSIK CERITA

UNSUR INTRINSIK

YUK KITA BELAJAR MENGENAL UNSUR2 INTRINSIK PADA CERITA, APA AJA YAH????

1. SETTING => Waktu, Tempat, Suasana
2. AMANAT => Pesan yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca
3. TEMA       =>Topik ide cerita

contoh: persahabatan, percintaan, kekeluargaan.
4. Penokohan => Protagonis, Antagonis, Tirtagonis
5. ALUR      => Maju, Mundur, Campuran
6. MAJAS   => gaya bahasa,

contoh: hatiku menjerit saat kau selingkuh            (personifikasi)

7. SUDUT PANDANG => Orang pertama (aku, saya)

                                             => pelaku utama dan sampingan
                                       => Orang ketiga (dia, ia, mereka, nama orang)

                                             => pelaku utama dan serba tahu

PROFESIONALISME GURU BAHASA INDONESIA

Pengembangan profesionalisme guru menjadi perhatian secara global, karena guru memiliki tugas dan peran bukan hanya memberikan informasi-informasi ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga membentuk sikap dan jiwa yang mampu bertahan dalam era globalisasi ini. Tugas guru adalah membantu peserta didik agar mampu melakukan adaptasi terhadap berbagai tantangan kehidupan serta desakan yang berkembang dalam dirinya. Pendidikan dihadapkan pada tantangan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan yang bersifat kompetitif.
Guru profesional merupakan orang yang telah menempuh program pendidikan guru dan memiliki tingkat master serta telah mendapat ijazah negara dan telah berpengalaman dalam mengajar pada kelas-kelas besar. Guru-guru ini diharapkan dan dikualifikasikan untuk mengajar di kelas yang besar dan bertindak sebagai pimpinan bagi para anggota staf lainnya dalam membantu persiapan akademis sesuai dengan minatnya.
Oemar (2006:27-28) memaparkan bahwa guru-guru yang profesional bertugas antara lain:
1. bertindak sebagai model bagi para anggota lainnya;
2. merangasang pemikiran dan tindakan;
3. memimpin perencanaan dalam mata pelajaran atau daerah pelajaran tertentu;
4. memberikan nasihat kepada executive teacher sesuai dengan kebutuhan tim;
5. membina/memelihara literatur-literatur profesional dalam daerah pelajarannya;
6. bertindak atau memberikan pelayanan sebagai manusia sumber dalam daerah pelajaran tertentu dengan referensi pada in-service, training dan pengembangan kurikulum.
 Bahasa Indonesia Memerlukan Pembinaan
Sudah sejak beberapa lama timbul keluh kesah di sana-sisni di antara beberapa orang ahli dan guru pengajar Bahasa Indonesia tentang betapa semakin rusaknya pemakaian bahasa Indonesia dewasa ini. Bermacam-macam sorotan telah dilakukan ada yang menyoroti dari sudut membanjirinya pemakaina kata-kata asing yang rupanya tidak terbendung lagi. Ada lagi yang menyorotinya dari sudut membanjirnya akronim-akronim yang tidak terkontrol lagi. Pemakaian kalimat yang rancu dan berkepanjangan juga menjadi bahan sorotan. Sorotan itu terutama datang dari para guru.
Sorotan itu memang tidak salah. Kenyataan telah membuktikan hal itu. Kebanyakan lulusan SMP dan SMA belum bisa berbahasa Indonesia dengan benar. Mereka berbicara dengan bahasa gado-gado. Boleh jadi sulit ditentukan mereka berbahasa Indonesia yang kejawa-jawaan atau berbahasa jawa yang keindonesia-indonesiaan sebab di dalamnya terjadi pencampur-adukan kata-kata kedua bahasa ini. Apakah ini yang dinamakan integrasi bahasa Indonesia dengan bahasa daerah seperti yang dinyatakan Sunardi dalam Kunardi yang katanya bukan merupakan persoalan yang pelik. Pada hemat penulis kenyataan demikian bagaimanapun yang pelik, bahkan amat pelik.(2005:23).
Sebagai pusat perhatian sekolah sekolah harus menjadi Pembina utama. Selanjutnya, masyarakat harus berkiblat pada sekolah. Masyarakat harus belajar dari sekolah. Keberhasilan sekolah di dalam mengelola pendidikan diharapkan akan berpengaruh pada pendidikan masyarakat, khususnya pendidikan bahasa.
Komunikasi antara sekolah, masyarakat, dan pemerintah dapat diciptakan dan diselenggarakan melalui penerbitan brosur-brosur, majalah-majalah, dan buku-buku. Pembinaan pemakaian bahasa Indonesia melalui radio dan televisi bisa lebih ditingkatkan. Pemakaian bahasa Indonesia baku ragam lisan maupun tulis hendaknya menjadi topik utama. Ada baiknya pula jika semua surat kabar membuka rubrik “Pembinaan Bahasa Indonesia”.
 Pembinaan Bahasa Indonesia Dimulai dari Sekolah
Apabila guru melakukan perbuatan negatif, maka murid-muridnya akan lebih-lebih lagi melakukan perbuatan negatif itu. Guru selalu menjadi model, karena itu guru harus berkata dan bertindak benar serta bertingkah laku benar. Demikian juga halnya dengan pengguanaan bahasa Indonesia di dalam pengajaran. Guru, terutama guru bahasa Indonesia sudah selayaknya selalu berbahasa yang benar. Ia harus memberikan contoh penggunaan bahasa Indonesia yang baik kepada murid-muridnya. Bahasa Indonesia yang benar tentulah menurut standar dan ukuran yang berlaku sesuai dengan kaidah-kaidah sebagai tercantum di dalam tata bahasa. Bahasa guru mestinya bukanlah bahasa yang penuh dengan kata-kata asing dan atau kata-kata daerah yang sulit dipahami murid. Bahasa guru bukanlah bahasa dialek, bukan pula bahasa Koran/surat kabar.
Pokoknya guru bahasa selalu berhati-hati di dalam berbahasa Indonesia sebab apa yang dikatakannya bagi murid adalah sesuatu yang benar, demikian juga dengan cara berbicaranya adalah cara mengatakan yang benar. Inilah yang akan selalu diperhatikan murid untuk kemudian ditirunya.
Pada dewasa hal-hal demikian itu kurang disadari dan kurang mendapat perhatian rekan-rekan guru. Biasanya yang sedang bersemangat dan berapi-api mengajar, mereka lupa bahasa yang digunakannya. Tidak jarang dijumpai pemakaian kalimat yang salah. Kalimat-kalimat yang salah ini dapat dijeniskan sebagai berikut:
a. Kalimat yang mengandung kata-kata bahasa jawa;
b. Kalimat yang salah strukturnya; dan
c. Kalimat yang menggunakan kata-kata yang tidak tepat.
Di fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mestinya mata kuliah Bahasa Indonesia merupakan mata kuliah yang penting dan menentukan. Di PGSD dan FKIP sebagai lembaga yang mempersiapkan mahasiswa-mahasiswanya menjadi guru SD dan SMP/SMA. Mata kuliah Bahasa Indonesia (terutama untuk penguasaan aktif/praktis) seharusnya menjadi mata kuliah utama/wajib, bukan sebagai mata kuliah tambahan.
 Upaya Meningkatkan Profesionalisme Guru Bahasa Indonesia
Pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan profesionalisme guru diantaranya meningkatkan kualifikasi dan persyaratan jenjang pendidikan yang lebih tinggi bagi tenaga pengajar mulai tingkat persekolahan sampai perguruan tinggi. Program penyetaaan Diploma II bagi guru-guru SD, Diploma III bagi guru-guru SLTP dan Strata I (sarjana) bagi guru-guru SLTA. Meskipun demikian penyetaraan ini tidak bermakna banyak, kalau guru tersebut secara entropi kurang memiliki daya untuk melakukan perubahan.
Memang untuk mempersiapkan calon-calon guru yang mampu berbahasa Indonesia itu haruslah disediakan tenaga pengajar/dosen yang betul-betul cakap di dalam bidangnya. Kesalahan di dalam menggunakan bahasa Indonesia tentulah tidak boleh dibiarkan berlarut-larut bahasa Indonesia akan digunakan secara serampangan oleh anak-anak Indonesia.
Pembinaan bahasa Indonesia memang harus dimulai di sekolah. Pembinaan itu tidak akan mencapai hasil kalau tenaga pembinanya tidak mempunyai kemampuan. Untuk mencapai tujuan itu, adapun dapat ditempuh cara sebagai berikut:
a. Di tiap sekolah diadakan penataran atau diskusi tentang penggunaan bahasa Indonesia, yang harus diikuti oleh semua guru. Penyelenggaraan dilakukan oleh guru-guru Bahasa Indonesia.
b. Di sekolah-sekolah guru (PGSD dan FKIP) harus diberikan pelajaran/kuliah khusus kemampuan Bahasa Indonesia, yang diampu pleh guru-guru/dosen-dosen yang cakap dan berpengalaman.
Daftar Pustaka
Dede Mohamad Riva. 2008. “Upaya Meningkatkan Profesionalisme Guru”. http://beta.pikiran-rakyat.com. (diakses 05 Juni 2008).

Daniel M. Rosyid. 2007.” Tantangan Membangun Guru Profesional”. http://kpicenter.web.id.(diakses 05 Juni 2008).

Anonim. 2008. “Pengembangan Profesionalisme Guru”. http://mgmpkimia.wordpress.com. (diakses 05 Juni 2008).

Angelinasondakh. 2008. “Profesionalisme Guru Sebagai Sebuah Kebutuhan”. http://www.angelinasondakh.com/Articles/Education/.(diakses 05 Juni 2008).

Oemar Hamalik. 2006. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Kunardi Hardjoprawiro. 2005. Pembinaan Pemakaian Bahasa Indonesia. Surakarta: UPT MKU UNS dan UNS Press.

PENERAPAN BELAJAR SEPANJANG HAYAT DALAM MEWUJUDKAN MASYARAKAT BELAJAR

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan adalah suatu proses untuk menuju pendewasaan, dimana untuk mewujudan pendidikan yang optimal diperlukan berbagai jenis pendidikan, tidak hanya terpancang pada pendidikan formal saja. Melainkan juga diperlukan pendidikan informal dan non formal. Karena sejatinya pendidikan itu merupakan suatu proses yang komplek dimana kesemuanya merupakan satu kesatuan. Begitu pentingnya pendidikani inilah yang melatarbelakangi penulis dalam menyusun makalah ini.
Dewasa ini perwujudan masyarakat belajar belum ada peningkatan seperti yang diharapkan. Banyak upaya yang dilakukan pemerintah untuk mewujudkan pendidikan yang merata, yang melingkupi semua lapiasan masyarakat untuk meningkatkan kualitas SDM. Dalam upaya ini dibutuhkan pula campur tangan dari masyarakat itu sendiri. Karena tanpa kedasaran dan kerjasama masyarakat, perwujudan masyarakat belajar tidak akan tecapai. Karena pendidikan tidak hanya diperoleh dari sekolah, melainkan dari kesadaran masyarakat untuk belajar antara lain melalui membaca, internet, pengalaman, dan lain-lain.
Penerapan belajar sepanjang hayat dalam mewujudkan masyarakat belajar sangat memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas SDM. Dengan peningkatan tersebut, harkat dan martabat masyarakat dapat terangkat dimata dunia. Oleh sebab itu perlu adanya kemerataan pendidikan yang tidak hanya didapat dari sekolah, namun juga dapat terwujud dalam perpustakaan umum untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

B. Rumusan Masalah
Penulis dalam makalah ini akan membahas tentang”Penerapan Belajar Sepanjang Hayat dalam Mewujudkan Masyarakat Belajar” yang dibatasi oleh beberapa masalah seperti berikut :
1. Apa itu belajar sepanjang hayat?
2. Bagaimana masyarakat belajar itu?
3. Upaya apa saja yang dilakukan untuk mewujudkan masyarakat belajar?

C. Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui apa pengetian belajar sepanjang hayat.
2. Untuk mengetahui bagaimana masyarakat belajar itu.
3. Unutuk mengetahiu upaya yang dapat dilakukan dalam mewujudkan masyarakat belajar.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Belajar Sepanjang Hayat
Pendidikan merupakan suatu upaya sadar manusia untuk mendewasakan anak. Secara umum Pendidikan merupakan suatu proses berkelanjutan yang mengandungi unsur-unsur pengajaran, latihan, bimbingan dan pimpinan dengan tumpuan khas kepada pemindahan berbagai ilmu, nilai agama dan budaya serta kemahiran yang berguna untuk diaplikasikan oleh individu (pengajar atau pendidik) kepada individu yang memerlukan pendidikan
Beberapa pendapat pakar tentang pendidikan :
1. Crow and crow mengartikan pendidikan sebagai proses dimana penaglama atau informasi diperoleh sebagai hasil dari proses belajar.
2. John Dewey ( Pandangan pakar pendidikan dari Amerika) berpandangan bahwa pendidikan ialah satu proses membentuk kecenderungan asas yang berupa akaliah dan perasaan terhadap alam dan manusia
3. Prof. Horne (tokoh pendidik di Amerika), berpendapat bahwa pendidikan merupakan proses abadi bagi menyesuaikan perkembangan diri manusia yang merangkumi aspek jasmani, alam, akliah, kebebasan dan perasaan manusia terhadap Tuhan sebagaimana yang ternyata dalam akliah, perasaan dan kemahuan manusia.
4. Herbert Spencer, (ahli falsafah Inggeris (820-903 M)), mengatakan bahwa pendidikan ialah mempersiapkan manusia supaya dapat hidup dengan ke hidupan yang sempurna.
Pada hakikatnya pendidikan diperoleh melalui proses yang terdapat didalam suatu masyarakat dan individu didalamnya. Sehingga pendidikan itu tidak hanya berupa pendidikan formal yang diperoleh di lembaga pendidikan saja tetapi lebih bersifat menyeluruh yaitu adanya pendidikan informal dan non formal yang sebenarnya membantu tercapainya kesuksesan pembentukan kedewasaan anak. Semua ini karena pada dasarnya pendidikan formal informal, dan non formal merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan sehingga terdapat kersinambungan yang tidak bisa terpisahkan dalam kaitannya untuk menciptakan manusia yang sempurna dalam hal penguasaan iptek dan pengoptimalan potensi.
Hakikat belajar sepanjang hayat adalah belajar seumur hidup atau yang lebih dikenal denagan istilah life long education dan life long learning, bukan mendapat pendidikan seumur hidup. Dalam GBHN termaktub: “pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan ialah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah”. Ini berarti bahwa setiap insan di Indonesia dituntut untuk selalu berkembang sepanjang hidupnya. Oleh karean itu, masyarakat dan pemerintah harus menciptakan suasana atau iklim belajar yang baik, sebab pendidikan formal bukanlah satu-satunya tempat untuk belajar.
Pendidikan seumur hidup disebabkan oleh munculnya kebutuhan belajar dan kebutuhan pendidikan yang terus tumbuh dan berkembang selama alur kehidupan manusia, dalam arti belajar tidak ada putus-putusnya. Melalui proses belajar sepanjang hayat inilah, manusia mampu meningkatkan kualitas kehidupannya secara terus menerus, mampu mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi serta perkembangan masyarakat yang diakibatkannya, dan budaya untuk menghadapi tantangan masa depan serta mau dan mampu mengubah tantangan menjadi peluang.
Ciri-ciri manusia yang menjadi pelajar sepanjang hayat (Cropley 1977:49):
1. Sadar bahwa dirinya harus belajar sepanjang hayat
2. Memiliki pandangan bahwa belajar hal-hal yang baru merupakan cara logis untuk mengatasi masalah
3. Bersemangat tinggi untuk belajar pada semua level
4. Menyambut baik perubahan
5. Percaya bahwa tantangan sepanjang hidup adalah peluang untuk belajar hal baru.
• Urgensi pendidikan sepanjang hayat (Drs. H, Rfuad. Ihsan 1996:44-45):
1. Aspek ekonomis, pendidikan merupakan cara yang paling efektif untuk dapat keluar dari “Lingkungan Setan Kemelaratan” akibat kebodohan. pendidikan seumur hidup akan memberi peluang bagi seseorang untuk meningkatkan produktivitas, memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimilikinya, hidup di lingkungan yang menyenangkan-sehat, dan memiliki motivasi dalam mendidik anak-anak secara tepat sehingga pendidikan keluarga menjadi penting.
2. Aspek sosiologis, di negara berkembang banyak orangtua yang kurang menyadari pentingnya pendidikan sekolah bagi anak-anaknya, ada yang putus sekolah bahkan ada yang tidak sekolah sama sekali. pendidikan seumur hidup bagi orang tua merupakan problem solving terhadap fenomena tersebut. Aspek politis, pendidikan kewarganegaraan perlu diberikan kepada seluruh rakyat untuk memahami fungsi pemerintah, DPR, MPR, dan lembaga-lembaga negara lainnya. Tugas pendidikan seumur hidup menjadikan seluruh rakyat menyadari pentingnya hak-hak pada negara demokrasi.
3. Aspek teknologis, pendidikan seumur hidup sebagai alternatif bagi para sarjana, teknisi dan pemimpin di negara berkembang untuk memperbaharui pengetahuan dan keterampilan seperti dilakukan negara-negara maju. Aspek psikologis dan pedagogis, sejalan dengan makin luas, dalam dan kompleknya ilmu pengetahuan, tidak mungkin lagi dapat diajarkan seluruhnya di sekolah. Tugas pendidikan sekolah hanya mengajarkan kepada peserta didik tentang metode belajar, menanamkan motivasi yang kuat untuk terus-menerus belajar sepanjang hidup, memberikan keterampilan secara cepat dan mengembangkan daya adaptasi. Untuk menerapkan pendidikan seumur hidup perlu diciptakan suasana yang kondusif.
B. Mewujudkan Masyarakat Belajar
Secara fisiologis manusia adalah makhluk sosial dan makhluk pembelajar. Ini berarti bahwa setiap manusia perlu pendidikan dan perlu belajar sepanjang kehidupannya. Sebagai bagian dari tujuan pembangunan manusia seutuhnya. Pendidikan merupakan hak kemanusiaan setiap warga negara dan harus dipenuhi oleh negara tersebut. Hal ini seperti yang tertuang dalam UUD 1945 alinea keempat yang berbunyi “Negara berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Seperti juga yang tertuang dalam amanat Undang-Undang No. 2 tahun 2005 tentang Sistem Pendidikan Nasional, penyelenggaraan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan pada masyarakat mutlak diperlukan dalam rangka mewujudkan pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan pada masyarakat dapat meningkatkan kecakapan hidup, keterampilan hidup, sikap wirausaha dan kompetensi yang dimiliki oleh manusia.
Pendidikan pada masyarakat juga memiliki beberapa karakteristik antara lain :
1. Tujuan pendidikan masyarakat adalah memenuhi kebutuhan belajar yang fungsional bagi kehidupan sehari-hari.
2. Hasil belajar dapat diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
3. Lamanya penyelengaraan program relatif singkat tergantung pada kebutuhan warga belajar untuk meningkatkan mutu dan taraf hidupnya.
4. Waktu kegiatan disesuaikan dengan kesempatan yang dimiliki warga belajar.
5. Kurikulum bervariasi dan fleksibel sesuai dengan perbedaan kebutuhan warga belajar dan potensi yang tersedia di masyarakat.
6. Kegiatan pembelajaran berpusat pada warga belajar, dengan lebih menekankan kecakapan dan keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
7. Kegiatan pembelajaran menekankan pada inisiatif dan partisipasi warga belajar, dengan melibatkan masyarakat sekitar.
8. Hubungan antara tutor dan warga belajar bersifat sejajar atas dasar kefungsian, dan
9. Pembinaan program dilakukan secara demokratis antara tutor warga belajar, dan pihak lain yang berpartisipasi.
Adapun untuk mewujudkan masyarakat belajar ada beberapa program yang dapat dilaksanakan antara lain:
Pertama, Program pengembangan keahlian dan peningkatan kualitas pengelola lembaga pendidikan. Program ini dilaksanakan berdasarkan variasi latar belakang pengelola lembaga pendidikan, serta variasi kondisi geografis dan potensi sumber daya alam yang ada di masing-masing daerah.
Kedua, pemberantasan buta aksara. Masalah buta aksara kadang dianggap masalah biasa, padahal masalah ini sangat terkait dengan mutu suatu bangsa di mata Internasional.
Ketiga, sebagai pembentuk generasi baru yang berkarakter dan berdaya saing tinggi. Sebagai wadah dalam mempersiapkan SDM yang berkualitas, berwawasan, dan berintelektual tinggi.
Keempat, sebagai pewaris budaya dari pembinaan satu tahapan dari generasi satu ke generasi berikutnya.
Program mewujudkan masyarakat belajar perlu kerjasama dari berbagai pihak baik dari masyarakat itu sendiri ataupun dari pemerintah, baik pemerintah daerah ataupun pusat. Dengan adanya kerja sama dari berbagai pihak diharapkan “mewujudkan masyarakat belajar” bukan hal yang tidak mungkin.

C. Upaya Mewujudkan Masyarakat Belajar
Untuk mewujudakan masyarakat belajar, perlu adanya strategi-strategi pendidikan sepanjang hayat. Strategi dalam rangka pendidikan sepanjang hayat itu meliputi hal-hal sebagai berikut:
1) Konsep- Konsep Kunci Pendidikan Sepanjang Hayat
Dalam pendidikan sepanjang hayat dikenal adanya 4 macam konsep kunci, yaitu:
a. Konsep pendidikan sepanjang hayat itu sendiri.
Sebagai suatu konsep, maka pendidikan sepanjang hayat diartikan sebagai tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman-pengalaman pendidikan. Hal ini berarti pendidikan akan meliputi seluruh rentangan usia dari usia yang paling muda sampai paling tua, dan adanya basis yang mendasari persekolahan konfensional.
b. Konsep belajar sepanjang hayat
Dalam pendidikan sepanjang hayat berarti pelajar belajar karena respon terhadap keinginan yang didasari untuk belajar dan angan-angan pendidikan menyediakan kondisi-kondisi yang membantu belajar. Jadi, istilah belajar ini merupakan kegiatan yang dikelola walaupun tanpa organisasi sekolah dan kegiatan ini justru mengarah pada penyelengaraan asas pendidikan sepanjang hayat.
c. Konsep pelajar sepanjang hayat
Belajar sepanjang hayat dimaksudkan adalah orang-orang yang sadar tentang diri mereka sebagai pelajar sepanjang hayat, melihat belajar baru sebagai cara yang logis untuk mengatasi problema dan terdorong untuk belajar di seluruh tingkat usia dan menerima tantangan dan perubahan sepanjang hayat sebagai pemberi kesempatan untuk belajar baru.
Dalam keadaan demikian perlu adanya sistem pendidikan yang bertujuan membantu perkembangan orang-orang secara sadar dan sistematik merespons untuk beradaptasi dengan lingkungan mereka sepanjang hayat.
d. Kurikulum yang membantu pendidikan sepanjang hayat
Kurikulum, dalam hubungan ini, didesain atas dasar prinsip pendidikan sepanjang hayat betul-betul telah menghasilkan pelajar sepanjang hayat yang secara berurutan melaksanakan belajar sepanjang hayat. Kurikulum yang demikian, merupakan kurikulum praktis untuk mencapai tujuan pendidikan dan mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan sepanjang hayat.
2) Arah Pendidikan Sepanjang Hayat
Pada umumnya pendidikan sepanjang hayat diarahkan pada orang-orang dewasa dan pada anak-anak dalam rangka penambahan pengetahuan dan keterampilan mereka yang sangat dibutuhkan di dalam pendidikan.
a. Pendidikan sepanjang hayat kepada orang dewasa
Sebagai generasi penerus, kaum muda atau dewasa membutuhkan pendidikan sepanjang hayat ini dalam rangka pemenuhan “self interest” yang merupakan tuntutan hidup mereka sepanjang masa. Diantara self interest tersebut, kebutuhan akan baca tulis bagi mereka umumnya dan latihan keterampilan bagi para pekerja, sangat membantu mereka untuk menghadapi situasi dan persoalan-persoalan penting yang merupakan kunci keberhasilan.
b. Pendidikan sepanjang hayat bagi anak
Pendidikan sepanjang hayat bagi anak, merupakan sisi lain yang perlu memperoleh perhatian dan pemenuhan oleh karena anak akan menjadi “tempat awal” bagi orang dewasa nantinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Program kegiatan disusun mulai dari peningkatan kecakapan baca tulis, keterampilan dasar dan mempertinggi daya pikir anak, sehingga memungkinkan anak terbiasa untuk belajar, berpikir kritis dan mempunyai pandangan kehidupan yang dicita-citakan pada masa yang akan datang.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari yang telah diuraikan di atas dapatlah ditarik beberapa kesimpulan yang berkaitan dengan penerapan belajar sepanjang hayat dalam mewujudkan masyarakat belajar adalah sebagai berikut :
• Belajar sepanjang hayat adalah belajar seumur hidup yang merupakan kebutuhan manusia dalam usaha mengembangkan diri serta mempertahankan eksistensinya adalah melalui belajar yang dilakukan sepanjang hayatnya. Tanpa belajar, manusia akan mengalami kesulitan baik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan maupun dalam memenuhi tuntutan hidup dan kehidupan yang selalu berubah.
• Masyarakat belajar (Learning Community) adalah pembelajaran yang dilakukan kepada masyarakat dalam bentuk kelompok-kelompok. Hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama. Masyarakat Belajar merupakan upaya untuk lebih melibatkan masyarakat dalam upaya-upaya membangun pendidikan untuk kepentingan masyarakat dalam menjalankan perannya dalam kehidupan.
• Program mewujudkan masyarakat belajar adalah pengembangan keahlian dan peningkatan kualitas pengelola lembaga pendidikan, pemberantasan buta aksara, pembentukan generasi baru yang berkarakter dan berdaya saing tinggi, membentuk pewaris budaya dari pembinaan satu tahapan dari generasi satu ke generasi berikutnya. Program ini perlu kerjasama dari berbagai pihak baik dari masyarakat itu sendiri ataupun dari pemerintah, baik pemerintah daerah ataupun pusat.
• Upaya untuk mewujudkan Masyarakat Belajar adalah:
(1) Konsep- Konsep Kunci Pendidikan Sepanjang Hayat
b. Konsep pendidikan sepanjang hayat itu sendiri.
c. Konsep belajar sepanjang hayat
d. Konsep pelajar sepanjang hayat
e. Kurikulum yang membantu pendidikan sepanjang hayat
(2) Arah Pendidikan Sepanjang Hayat
a. Pendidikan sepanjang hayat kepada orang dewasa
b. Pendidikan sepanjang hayat bagi anak

B. SARAN
Konsep tentang belajar sepanjang hayat diharapkan akan mengubah pandangan masyarakat bahwa pendidikan bukan hanya belajar di sekolah formal saja, melainkan dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, misalnya di lingkungan keluarga dan masyarakat. Untuk mendukung konsep ini tentang pembelajaran sepanjang hayat, dibutuhkan peran aktif dari masyarakat dan pemerintah. sehingga konsep pendidikan sepanjang hayat dapat terealisasikan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. ” Filosofi Pendidikan masyarakat”.
http://www.glorianet.org/kolom/koloalla.html. (Diakses 16 April 2008).

Anonim. 2008. ”Pendidikan Seumur Hidup”. http://my.opera.com. (Diakses 16 April 2008).

Anonim. 2008. “Belajar Seumur Hidup”. http://gurupkn.wordpress.com. (Diakses 16 April 2008)

Roosdi Achmad Syuhada. 1988. Bimbingan dan Konseling dalam Masyarakat dan Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta: Depdikbud.

Soelaiman Joesoef. 1986. Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah. Surabaya: PT Bumi Aksara.

Drs. Gino, dkk. 1999. Belajar dan Pembelajaran I. Surakarta: Depdikbud